JAKARTA – Di sebuah sudut Gampong Geunteng, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, tepatnya di Meunasah Reeng, tawa anak-anak perlahan kembali terdengar. Di tengah sisa-sisa banjir yang masih menyisakan lumpur dan genangan air, sekelompok anak duduk berbanjar, memegang krayon warna-warni.
Ada yang sibuk menggambar rumah, ada pula yang bernyanyi sambil bertepuk tangan. Untuk sesaat, ingatan tentang air bah yang merendam rumah mereka seakan menjauh.
Bagi Sri Wahyuni, bidan gampong yang setiap hari mendampingi warga, momen sederhana itu terasa begitu berarti. Ia melihat sendiri bagaimana bencana banjir dan longsor tidak hanya merusak rumah dan harta benda, tetapi juga meninggalkan luka batin, terutama pada anak-anak.
“Pemulihan psikologis anak itu penting sekali. Anak-anak ini kan belum tentu bisa bercerita apa yang mereka rasakan, tapi trauma itu kelihatan dari sikap mereka,” ujar Sri Wahyuni, di Pidie Jaya, Selasa (16/12/2025), sambil menatap anak-anak yang tengah bermain.
Kesadaran akan pentingnya pemulihan mental inilah yang mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menghadirkan Mobil Dukungan Psikososial ke wilayah-wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh. Bersama organisasi kemanusiaan Save the Children, mobil ini menjadi ruang aman bergerak bagi anak-anak untuk kembali tersenyum dan merasa terlindungi.
Dalam kegiatan Mobil Dukungan Psikososial tersebut, anak-anak diajak melakukan berbagai aktivitas yang sederhana, namun penuh makna. Menggambar, bermain permainan kelompok, hingga bernyanyi bersama menjadi sarana untuk menyalurkan emosi dan perlahan mengurai trauma yang tersimpan.
Bidan Sri Wahyuni melihat perubahan yang nyata sejak kegiatan itu hadir di gampongnya. “Anak-anak terlihat bahagia. Mereka jadi terhibur, tidak terlalu mengingat kejadian bencana yang kemarin. Paling tidak, ada waktu untuk mereka merasa aman dan senang,” katanya.
Namun, di balik tawa yang kembali muncul, tantangan lain masih membayangi. Kondisi lingkungan pascabanjir belum sepenuhnya pulih. Sebagian rumah masih lembap dan tanah di sekitar permukiman tetap becek saat hujan turun. Anak-anak yang kembali bermain di sekitar rumah kerap bersentuhan dengan air sisa banjir, memicu masalah kesehatan.
Sri Wahyuni mencatat, penyakit yang paling banyak muncul di kalangan warga, khususnya anak-anak, adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit kulit. Gatal-gatal, alergi, dan iritasi kulit menjadi keluhan yang hampir setiap hari ia temui.
“Di sini balitanya sekitar 65 orang, kalau anak-anak yang hampir remaja ada lebih dari 50 orang. Banyak yang kena gatal-gatal dan ISPA, karena lingkungannya masih belum benar-benar kering,” ujarnya.
Sebagai tenaga kesehatan di Gampong Geunteng, Sri Wahyuni berharap upaya pemulihan tidak hanya menyentuh aspek psikologis, tetapi juga diiringi dengan dukungan kesehatan dasar.
Menurutnya, penyediaan masker sangat dibutuhkan untuk melindungi anak-anak dari gangguan pernapasan, terutama di tengah kondisi udara dan lingkungan yang belum ideal. Selain itu, ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan mendesak bagi warga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
“Masker itu penting, apalagi anak-anak banyak yang sudah batuk dan radang tenggorokan. Air bersih juga sangat dibutuhkan, supaya penyakit kulit bisa dicegah,” katanya.
Perhatian Sri Wahyuni juga tertuju pada bantuan pangan yang diterima warga. Ia menilai, meski bantuan sudah cukup dari sisi jumlah, kualitas makanan untuk anak-anak masih perlu diperhatikan. Bantuan yang datang sebagian besar berupa mi instan, yang dinilai kurang baik jika dikonsumsi anak-anak dalam jangka panjang.
“Mi instan itu tidak bagus untuk anak-anak kalau terus-menerus. Lambung mereka bisa terganggu. Kalau bisa, bantuannya berupa biskuit yang mengandung vitamin atau makanan bergizi lain,” ujarnya dengan nada penuh harap.(*)
Sumber: Infopublik




Discussion about this post