JAKARTA — Suasana hangat dan penuh makna terasa di aula Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Takhta Suci di Roma, Sabtu (24/10/2025). Dalam rangka memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Vatikan, KBRI Takhta Suci menggelar Pentas Budaya “Kebaya Menari”, sebuah pertunjukan yang memadukan keanggunan busana nasional dengan semangat perdamaian lintas agama.
Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang hadir dalam acara tersebut, menyebut pementasan “Kebaya Menari” sebagai refleksi keindahan keberagaman Indonesia yang mampu menyatukan budaya dan keyakinan dalam satu tarian. “Apa yang ditampilkan Komunitas Kebaya Menari mencerminkan semangat kemanusiaan, keragaman budaya, dan agama Indonesia. Ini pengejawantahan nyata dari motto bangsa kita — Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Nasaruddin, dalam siaran persnya yang diterima InfoPublik, Selasa (28/10/2025).
Sebelumnya, Duta Besar LBBP RI untuk Takhta Suci Michael Trias Kuncahyono menyampaikan apresiasi tinggi terhadap komunitas perempuan “interfaith” yang berpartisipasi dalam acara tersebut. “Komunitas Kebaya Menari adalah representasi dari realitas Indonesia yang beragam agama dan budaya. Kebaya, sebagai simbol identitas kultural, memiliki kekuatan yang powerful untuk menyatukan,” ucap Dubes Michael.
Pertunjukan yang dihadiri sejumlah duta besar di antaranya dari Jepang, Lithuania, dan Angola serta pejabat Vatikan, anggota diaspora Indonesia, dan perwakilan IRRIKA (Ikatan Rohaniwan-Rohaniwati Indonesia di Kota Abadi), menampilkan berbagai tarian tradisional dari Nusantara.
Para tamu juga disuguhi kuliner khas Indonesia seperti rawon, mi goreng, tempe goreng, dan martabak, yang semakin mempererat suasana kekeluargaan di tengah keragaman budaya.
Komunitas Kebaya Menari, yang dipimpin oleh Yanti Muljono, adalah kelompok pegiat budaya yang mengusung misi melestarikan kebaya melalui media tari. Bagi mereka, kebaya bukan sekadar pakaian tradisional, melainkan simbol kesederhanaan, keanggunan, dan penghormatan terhadap budaya bangsa. “Dengan tarian, edukasi tentang kebaya menjadi hidup dan mudah diterima masyarakat luas. Kami ingin perempuan Indonesia mengenakan kebaya bukan hanya di acara resmi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Yanti.
Dalam pertunjukan tersebut, tampil tiga tarian utama yang merepresentasikan nilai-nilai lintas agama dan kebudayaan Indonesia:
Tari Legong Bapang Durga (Bali) – menggambarkan semangat pelindung dan kasih sayang dalam ajaran Hindu, Tari Bedhaya Ura-ura (Jawa) menggambarkan spiritualitas dan keanggunan yang identik dengan nilai-nilai Katolik dan budaya keraton, dan Tari Zapin Melayu (Sumatra) – menampilkan kelembutan dan kesyahduan dalam tradisi Islam Nusantara.
Perpaduan tiga tarian itu menjadi simbol dialog budaya dan spiritual antara berbagai tradisi di Indonesia — sekaligus pesan kepada dunia bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan sekat.
Pentas budaya ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Vatikan. Sebelumnya, digelar Misa Syukur di Basilika Santo Petrus, Vatikan, dengan selebran utama Kardinal Pietro Parolin, serta audiensi khusus 200 warga Indonesia bersama Paus Leo XIV di Istana Kepausan.
Hingga akhir tahun, KBRI Takhta Suci masih akan melanjutkan rangkaian acara budaya seperti peluncuran perangko edisi khusus Indonesia–Vatikan dan pentas seni angklung.
Melalui kegiatan ini, Indonesia tidak hanya memperingati hubungan diplomatik semata, tetapi juga menegaskan identitasnya sebagai bangsa yang damai, inklusif, dan menghargai perbedaan. “Kebaya yang menari di Roma ini bukan sekadar tarian, tapi pesan dari Indonesia untuk dunia: bahwa perbedaan dapat menari bersama dalam harmoni,” pungkas Menteri Nasaruddin Umar.(*)
Sumber: Infopublik




Discussion about this post