JAMBI – Anggota DPRD Provinsi Jambi Pinto Jayanegara mendorong pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) berbasis ilmu pengetahuan supaya peristiwa serupa tidak berulang.
“Kalau persoalan yang sama kembali setiap beberapa tahun. Pertanyaannya tidak cukup lagi bagaimana memadamkan api. Kita juga harus bertanya apa yang membuat lanskap kita terus rentan terhadap api,” kata Pinto, Selasa (25/8).
Kedua, memastikan infrastruktur restorasi, sumber air, sistem deteksi dini, serta kemampuan respons di tingkat tapak berfungsi sebelum musim kemarau. Ketiga, menyediakan pilihan penyiapan lahan tanpa bakar yang layak secara ekonomi bagi masyarakat.
Ia juga mendorong pemerintah daerah di wilayah rawan memasukkan pencegahan karhutla ke dalam perencanaan pembangunan jangka menengah, disertai target, pembiayaan, pemeliharaan, indikator keberhasilan dan penanggung jawab yang jelas.
“Kalau risikonya sudah dapat dipetakan, pencegahannya juga harus direncanakan sebelum kemarau datang. Jangan setiap tahun kita kembali memulai dari keadaan darurat,” katanya.
Menurut anggota Fraksi Golkar itu, penegakan hukum terhadap pembakaran yang disengaja tetap diperlukan berdasarkan fakta dan alat bukti. Pemerintah pusat sendiri telah menginstruksikan tindakan tegas dan penyelidikan terhadap sejumlah area konsesi yang terbakar maupun diduga lalai menjaga lahannya.
Namun, kebijakan jangka panjang juga perlu menjawab mengapa sebuah sumber api dapat berkembang menjadi kebakaran besar.
Karena itu, evaluasi Karhutla sebaiknya tidak hanya menghitung berapa titik api yang berhasil dipadamkan. Pemerintah juga perlu mengukur berapa kawasan rawan yang berhasil dijaga tetap basah, berapa infrastruktur pencegahan yang masih berfungsi, seberapa cepat titik api ditangani, serta apakah kebakaran kembali terjadi pada lokasi yang sama.
“Presiden sudah menempatkan perhatian langsung pada pencegahan. Momentum ini perlu digunakan untuk membangun sistem yang tetap bekerja ketika musim hujan datang, ketika asap hilang, dan ketika karhutla tidak lagi menjadi berita,” ujar Pinto.
Menurut dia, ukuran keberhasilan kebijakan pada akhirnya dapat dirasakan langsung masyarakat.
“Anak-anak tetap bisa sekolah, masyarakat bisa bekerja, penerbangan berjalan, dan udara tetap sehat. Kalau itu bisa kita jaga ketika kemarau berikutnya datang, barulah kita bisa mengatakan bahwa kita belajar dari kebakaran sebelumnya,” ujarnya.(*)




Discussion about this post