JAKARTA – Lumpur masih mengering di halaman SD Kartika I-3, Desa Lalang, Deli Serdang, Sumatra Utara, Senin (15/12/2025). Beberapa bangku belum sepenuhnya kembali ke tempat semula. Tumpukan buku-buku pelajaran hingga karpet masih dijemur di teras sekolah.
Namun siang itu, tawa anak-anak terdengar riuh. Di bawah tenda sederhana, mereka bernyanyi, bermain, dan tertawa bersama. Dua pekan setelah banjir bandang merendam sekolah dan rumah mereka, senyum itu perlahan kembali berkat kehadiran Mobil Dukungan Psikososial #KomdigiPeduli.
Banjir datang tanpa banyak peringatan. Rabu malam, 26 November 2025, hujan yang turun terus-menerus sejak beberapa hari sebelumnya membuat air naik cepat di kawasan Komplek Abdul Hamid Nasution, Desa Lalang. Sekitar pukul 22.30 WIB, laporan pertama masuk ke ponsel Evi Kartika Trisnawati, Kepala Sekolah SD Kartika I-3. “Awalnya air dilaporkan setinggi betis. Tapi menjelang pagi, air di dalam kelas sudah setinggi pinggang orang dewasa,” kenang Evi.
Upaya penyelamatan dilakukan sebisanya. Barang elektronik dan arsip sekolah dinaikkan ke tempat tertinggi. Namun ketika air di luar kelas mencapai dada orang dewasa, keselamatan menjadi prioritas. Staf sekolah mengungsi, listrik padam, dan komunikasi sempat terputus.
Akibat banjir tersebut, aktivitas sekolah sempat terhenti. SD Kartika I-3 diliburkan hingga 6 Desember 2025 dan kembali aktif pada 9 Desember. Dari total 13 guru dan karyawan, enam di antaranya terdampak langsung oleh banjir, bahkan dua rumah guru terendam sepenuhnya.
Banjir itu bukan hanya merendam ruang kelas. Sekitar 80 persen siswa SD Kartika I-3 juga terdampak langsung. Ada 89 murid SD dan 23 anak PAUD bersekolah di situ. Rumah mereka terendam, seragam hanyut, buku pelajaran basah, dan rutinitas belajar terhenti. “Anak-anak kembali ke sekolah dengan kondisi seadanya. Ada yang belum bisa pakai seragam karena lumpur atau hanyut terbawa banjir,” ujar Evi.
Untunglah, Yayasan Kartika Jaya Cabang I Bukit Barisan sebagai pengelola SD Kartika ini langsung memberikan respons dan bantuan agar aset sekolah bisa diselamatkan dan dibersihkan. Sebanyak 20 prajurit TNI diturunkan untuk membersihkan sekolah dari sisa-sisa kotoran air bah.
Di tengah proses pemulihan itulah, Mobil Dukungan Psikososial #KomdigiPeduli hadir. Menjadi kegiatan pendampingan psikososial pertama yang diterima sekolah pascabanjir.
Di bawah tenda, anak-anak duduk melingkar. Mereka diajak bermain, bernyanyi, mendengarkan dongeng, dan mewarnai. Aktivitas sederhana, namun sarat makna. Tawa yang muncul perlahan menggantikan cerita tentang air, lumpur, dan malam panjang saat banjir datang. “Mungkin kalau dilihat sekilas anak-anak tampak biasa saja,” kata Evi. “Tapi saya yakin, di dalam hati kecil mereka ada rasa takut dan trauma. Kegiatan ini membantu membangkitkan kembali rasa percaya diri mereka.”
Bagi anak-anak, hari itu bukan sekadar bermain. Itu adalah ruang aman. Tempat mereka bisa menjadi anak-anak kembali, setelah dua pekan hidup dalam ketidakpastian.
Program Mobil Dukungan Psikososial #KomdigiPeduli merupakan inisiatif Kementerian Komunikasi dan Digital bekerja sama dengan Save the Children. Melalui pendekatan Psychological First Aid (PFA), program ini hadir langsung di titik terdampak untuk membantu anak-anak dan keluarga pulih secara emosional.
Di SD Kartika I-3, Deli Serdang, dukungan itu hadir dalam bentuk paling sederhana: perhatian, kebersamaan, dan tawa. Dari balik sisa lumpur banjir, anak-anak kembali menyapa dunia dengan senyum dan satu semangat yang sama, bangkit dan melangkah ke depan.(*)




Discussion about this post